Tragedi Loper Koran

Laju motor Yamaha Jumiter MX saya hentikan. Ketika melihat kebelakang, bapak loper koran itu sudah jatuh tersungkur dan sedang ditolong oleh orang-orang disekitarnya. Dengan berlari kecil, saya hampiri kerumunan itu. Sedikit terlintas di kepala, apakah saya akan dikeroyok oleh orang-orang itu. Tapi karena memang saya yang salah, dengan sedikit waspada, saya tetap mendekati bapak itu.

“Saya kan sudah jalan dipinggir”, dengan nada membentak bapak loper koran itu berkata sesaat setelah saya berada didekatnya. Dengan perasaan bersalah, saya meminta maaf. Saya jelaskan ketika itu sedang terburu-buru. Saya harus mengantarkan pesanan orang pagi itu, sementara itu saya harus segera mengejar absen finger print  tepat jam 7.30. Sebenarnya ini tidak perlu terjadi seandainya saya bisa berangkat lebih pagi. Ya, memang ini kesalahan saya. Sekali lagi saya mengucapkan maaf dan terus mengulanginya sampai akhirnya bapak itu mulai reda amarahnya dan orang-orang disekitar satu persatu mulai menyingkir.

Saya melihat ada sedikit luka di lengan dan kaki Bapak itu. Dengan niat memberikan biaya pengobatan dan sedikit berharap bisa membuatnya lebih tenang, saya berikan 1 lembar uang kertas berwarna biru kepadanya. Dan, setelah itu Alhamdulillah sudah bisa  lebih tenang bahkan sedikit terlihat senyuman di wajahnya. Sebelum meninggalkan Bapak itu, sekali lagi saya ucapkan permintaan maaf dan kemudian saya kembali memacu motor dengan kecepatan tidak seperti sebelumnya. Sambil berpikir, untung tadi saya tidak dikeroyok masa… Alhamdulillah.

Apa hikmah dibalik cerita diatas?

Setidaknya ada dua poin yang bisa dipetik pelajaran darinya. Pertama, Janganlah terburu-buru. Terbukti bahwa terburu-buru itu tidak baik. Apalagi di jalan raya. Selain keterburu-buruan itu bisa merugikan diri sendiri, bisa juga merugikan orang lain. Seperti cerita diatas, keterburu-buruan telah membuat saya terlibat masalah dan orang lain pun terluka. Padahal, sebenarnya bisa saja saya tetap tenang, konsekuensinya paling hanya telat sampai kantor. Dan solusinya juga sudah ada, yaitu waktu pulang kantornya diundur.

Kedua, Apapun resikonya, tetap ambil tanggung jawab. Bisa saja ketika kejadian itu, saya kabur. Apalagi sudah kebayang bakal dikeroyok masa. Tapi, tidak saya lakukan. Tetap saya tanggung resikonya dengan tetap berharap tidak ada hal jelek yang menimpa. Dan alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Bahkan ketika saya hendak pergi dari lokasi, beberapa orang memberikan senyumannya menandakan tiada amarah. Tapi seandainya tetap saja ada hal jelek yang menimpa, berarti memang APESSSSS 🙂 Walaupun begitu, perbuatan baik yang telah dilakukan pastilah ada nilainya di mata Allah SWT. Sekecil apapun perbuatan baik yang kita lakukan, pasti ada balasannya. Are you agree?

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda 

 

 

 

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *