Ta’aruf is The Perfect Solution to Get The Best Life Partner

Menyambung dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul : Jangan Dengar Kata Hati Mu, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Ini terkait dengan usaha kita mencari calon pendamping hidup.

Memilih calon pendamping hidup, adalah pekerjaan yang memerlukan pertimbangan tingkat tinggi.  Ujungnya-ujungnya yang menjadi jurus pamungkas adalah seperti apa yang sebelumnya saya tulis di artikel saya diatas, yaitu : Dengarkanlah kata hati mu. Ya, jawaban klasik atas segala permasalahan hidup seseorang.

Mendengarkan kata hati untuk memilih calon pendamping hidup, menurut saya, sangat riskan sekali. Artinya keputusan yang katanya datang dari hati, bisa saja di”racuni” oleh  emosi yang menggebu terhadap calon pasangan kita. Apalagi dalam proses pemilihan calon pendamping hidup tersebut melalui proses pacaran.  Menurut saya ini akan makin riskan lagi. Karena emosi akan makin mengisi ruang hati yang menyebabkan keputusan tidak lagi berasal dari hati yang bersih.

Ketika proses pacaran dijalani, maka akan terjadi kedekatan batin diantara kedua insan manusia. Kalau sudah dekat, apa yang dilakukan oleh calon pasangan kita itu terlihat baik saja di mata kita. Ditambah lagi kecenderungan orang yang berpacaran, menurut saya, selalu ingin tampil sempurna di depan pacarnya. Dalam arti, bisa saja apa yang kita lihat ketika berpacaran, bukanlah sifat yang sesungguhnya dari pasangan kita tersebut. Ah ga gitu kok mas Octa ? Kami sudah perpacaran cukup lama, sekarang sih udah cuek aja, mau kentut (maaf) di depan pacar saya, cuek aja tuh. Mungkin ini kata-kata yang ada dipikiran sebagian dari Anda. Nah, justru disini makin jelas bahwa kalau melalui proses pacaran, semuanya menjadi buta…

Di sisi lain, proses pacaran itu justru menghambat atau membatasi diri kita  untuk mendapatkan yang terbaik. Seperti ini mungkin jadinya: Saya sudah berpacaran lama dengannya, saya sudah tahu baik buruknya, ya sudah saya terima saja deh dia sebagai pendamping hidupku. Ada tidak yang seperti ini ? Mungkin karena merasa nggak enak karena sudah berpacaran cukup lama, diterima saja tuh keputusan untuk mendampingi si dia  dalam sebuah ikatan pernikahan.

Satu lagi contoh, menurut saya, kenapa berpacaran itu justru menghambat dan membatasi diri kita untuk mendapatkan yang terbaik: Ketika Anda berpacaran, mungkin saja ada seseorang “angel” yang menaruh hati kepada Anda. Tapi terhenti langkahnya, karena Anda tidak sedang available. Atau ketika ada dari saudara Anda ingin mengenalkan diri Anda kepada seseorang yang cantik atau gantengnya melebihi artis bollywood, terhenti langkahnya karena tahu Anda sedang berpacaran dengan seseorang.

Jelas sudah, pacaran itu menghambat dan membatasi diri kita untuk mendapatkan yang terbaik.

Udah gitu, ini menurut saya lagi, ikatan batin yang terjadi selama proses berpacaran antara dua insan manusia berbeda gender, sebelum terjadinya proses pernikahan yang suci, sangat dimungkinkan disusupi oleh bisikan-bisikan setan. Setan tahu, bahwa ini adalah jalan untuk menjerumuskan manusia terhadap kemaksiatan. Dan yang terjadi kemudian adalah keputusan kita dalam memilih pasangan hidup ini, bisa jadi bukan berasal dari hati yang bersih, tapi dari hati yang sudah terkontaminasi oleh bisikan-bisikan setan. Pernyataan ini makin sempurna apabila diri kita memang tidak pernah dibiasakan untuk membersihkan hati. Tidak pernah membaca Al-qur’an, tidak pernah bergaul dengan 0rang-orang sholeh, tidak pernah mengisi hati kita dengan kalimat-kalimat Allah. Kalau sudah seperti ini, pantas rasanya kalau saya katakan bahwa dalam memilih pasangan hidup, janganlah mendengar kata hati.

Jadi, bisa saya simpulkan bahwa berpacaran itu memiliki banyak sisi negatif, antara lain :

1. Berpacaran itu menghambat atau membatasi diri kita untuk mendapatkan yang terbaik untuk dijadikan pasangan hidup.

2. Berpacaran itu akan menimbulkan ikatan batin. Ikatan batin yang terjadi sebelum terjadinya prosesi pernikahan yang syah, sangat dimungkinkan setan akan bermain disana. Ini tentunya akan mempengaruhi penilian Anda dalam memilih pasangan hidup Anda.

Lalu bagaimana dong, mas Octa ?

Jawabannya adalah lakukanlah apa yang telah dicontohkan rasulullah. Apa itu?  Ta’aruf, yaitu cukup dengan mengetahui biodata calon pasangan hidup, dan referensi-referensi yang diberikan oleh rekan dan keluarga dekat dan saran-saran dari orang-orang sholeh. That’s It.

Bukan karena saya islam, lalu saya menyarankan metode ini, tapi karena inilah jalan terbaik untuk mendapatkan pasangan hidup yang terbaik. Secara logika, tanpa harus memasuki nilai-nilai islam pun, ta’aruf adalah metode yang paling make sense untuk mendapatkan pasangan hidup yang terbaik.

Catat ini kawan. Ta’aruf is the perfect solution to get the best life partner.

Untuk melengkapi pemahaman terhadap tulisan ini, silahkan baca tulisan saya yang berjudul : Kunci Jodoh – Yakini, Insya Allah Jodoh yang Terbaik Untukmu Akan Datang (Revisi I)

Ini adalah opini saya. Bagi Anda yang tidak setuju, ayo kita diskusikan di sini 🙂

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

4 thoughts on “Ta’aruf is The Perfect Solution to Get The Best Life Partner”

  1. hmmb,,keren gan kata2 ini mantapz “berpacaran itu menghambat atau membatasi diri kita untuk mendapatkan yang terbaik untuk dijadikan pasangan hidup.”

Leave a Reply to bung ryan Cancel reply