Pasti Ada yang Salah Dengan Diri Kita

Beberapa hari ini ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya. Ada hal-hal yang mengusik batin ini, terkait dengan hubungan sosial. “Ini orang kok susah banget ya… Songooongnya luar biasa”, itu sebagian hal yang hilir mudik mengotori otak saya.

Yang terjadi adalah, disadari atau pun tidak, diinginkan atau pun tidak, wajahnya selalu mampir di dalam pikiran. Kok, sepertinya otak nih isinya hanya dia, kesombongannya, keangkuhannya, pokoknya semua kekurangannya. Dan hasilnya adalah diri  ini makin sakit hati dan merasa terzolimi. Bahkan kekesalan ini sempat saya utarakan secara tersirat di dalam status BBM saya.

Dalam hidup, hampir tidak mungkin kita terhindar dari berinteraksi dengan lingkungan, dengan tetangga, dengan teman kantor, dan komunitas lainnya. Selama berinteraksi, entah itu ketika memberi saran, memberi penugasan, memberi kritikan, atau bentuk komunikasi lainnya akan membentuk persepsi. Persepsi kita terhadap orang yang kita ajak berinteraksi, maupun persepsi orang lain terhadap diri kita. Ditambah dengan opini-opini yang berkembang, akhirnya membentuk sebuah penilaian bahwa si anu ini orangnya seperti itu. Padahal penilaian kita bisa saja salah. Menurut saya, untuk mendapatkan penilaian yang fair, perlu dilakukan klarifikasi. Klarifikasi itu tentunya harus ditempuh dengan jalan berkomunikasi, baik itu dengan yang bersangkutan, maupun orang-orang disekitarnya. Dalam islam ada istilahnya tabayyun.

Balik lagi ke permasalahan di atas. Setelah update status BBM (blackberry messenger) itu, ada teman yang berkomentar “What’s happened dude? You are so galau”. Terhentak sejenak, kok teman saya tahu kalau saya lagi galau, padahal statusnya sudah saya buat “setersirat” mungkin 🙂 . Dari situ, saya mulai tersadar, entah karena komentar teman saya itu atau karena ada wangsit, bahwa segala sesuatu yang hadir, entah itu kebahagian, maupun permasalahan adalah menurut kepantasannya.

Sebagai contoh, ketika kita mendapatkan rezeki yang banyak, lingkungan yang kondusif, teman yang baik, atasan yang mengayomi, bawahan yang kooperatif, itu hadir karena memang kita pantas mendapatkannya. Kepantasan ini bisa saja dinilai dari tingkah laku kita terhadap lingkungan dan orang-orang disekeliling kita. Rezeki kita banyak, mungkin saja karena kita sudah dianggap sanggup untuk memanejnya. Teman kita baik, mungkin saja karena kita pun bersikap baik terhadap sesama. Atasan kita mengayomi, bisa jadi karena kita pun bersikap mengayomi terhadap bawahan kita. Bawahan kita kooperatif, bisa jadi karena kita pun kooperatif dengan orang lain. Atau apapun penyebabnya, kebaikan-kebaikan yang hadir , pasti ada sebabnya kenapa Allah menghadiahkan itu semua kepada kita.

Di sisi lain, ketika rezeki kita seret, dapat teman yang ga pedulian, atasan yang otoriter, bawahan yang tidak kooperatif, itu hadir juga karena menurut kepantasannya. Pasti ada yang salah dengan diri kita. Sekali lagi saya katakan, PASTI ADA YANG SALAH DENGAN DIRI KITA. Ada suatu hal yang membuat kenapa mereka seperti itu, diluar apakah itu sudah menjadi sifat mereka atau tidak.

Kesimpulannya adalah sesuatu yang negatif dalam diri kita, menarik hal-hal yang negatif mendekati kita. Begitu juga dengan hal-hal positif dalam diri kita, akan menarik hal-hal yang positif  menghampiri kita. Ya, sesuai kepantasannya. Pernyataan ini membuat saya kembali tersadar bahwa ini bukanlah hanya tentang orang lain, tapi tentang diri saya pribadi. Dari pada pusing mikirin kekurangan orang lain, lebih baik memikirkan apa yang menjadi kekurangan diri kita. Lebih mudah mengubah kekurangan diri, dari pada mengubah kekurangan orang lain. Memikirkan orang lain, hanya membuat kita lelah. Lagi pula belum tentu juga mereka mikirin kita…. hehe. Dan yang  jelas, memikirkan kekurangan orang lain, tidak akan membuat kita berubah menjadi lebih baik.

Ini berlaku juga dalam hal menemukan pasangan hidup. Coba deh baca tulisan saya tentang itu disini: Kunci Jodoh.

Sekian, mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi pembelajaran untuk Anda, khususnya untuk saya pribadi.

Eh, satu hal lagi yang perlu disampaikan dari hasil pembelajaran  dan tentunya bukan maksud untuk menggurui… Kalau punya masalah, tidak perlulah mengadu kepada publik dengan update status di BBM atau di facebook, itu hanya menjadi publikasi kepada orang banyak tentang kelemahan kita yang mungkin bisa disalahgunakan orang lain, cukup Allah SWT sebagai tempat mengadu. Kalau mengadunya ke Allah, PASTI dapat solusinya.

Bagaimana menurut Anda? Setuju dengan tulisan saya ini? Atau ada pendapat lain?

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *