Nanti Bagaimana ? Bagaimana Nanti !

Saya dan sebagian dari Anda mungkin pernah atau sering merasa tidak yakin untuk melangkah karena dihantui oleh ketakutan-ketakutan yang diciptakan sendiri.

“Nanti kalau hujan dijalan bagaimana ya ?” “Nanti kalau saya tidak mampu melakukannya bagaimana ya ?” Nanti kalau bisnisnya gagal bagaimana ya ?” “Nanti kalau gugup bagaimana ya ?” Dan kalau mau diteruskan, masih banyak nanti-nanti yang lain. Kata-kata inilah yang membuat orang berhenti untuk melangkah dan akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

“Nanti bagaimana ya ?” Kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada mbah Purdi, pasti akan dijawab “Ya, bagaimana nanti !”. Artinya, dijalani saja dulu. Kan belum tentu juga apa yang dikhawatirkan itu akan terjadi.

Dalam berbinis, kata-kata “bagaimana nanti”, saya rasa mesti dijadikan pedoman. Bukan berarti mengabaikan perencanaan. Ini lebih kepada pendobrak untuk yakin dalam memulai bisnis.

Dalam satu kesempatan mbah Purdi pernah mengatakan bahwa memulai bisnis itu seharusnya seperti orang mau mandi.  Tidak pernah bukan, ketika seseorang mau mandi, dia akan memikirkan apakah mandinya ini akan sukses atau tidak. Pasti dia akan langsung mandi. Seadainya pun ketika ditengah jalan ada kendala, lupa membawa handuk misalnya, kan tinggal minta tolong orang rumah untuk diambilkan handuknya. Dan, mandinya pun akan tetap terus berjalan dan akhirnya sukses.

Begitu pula dengan bisnis. Mulai saja dulu. Nanti kalau rugi bagaimana ? Nanti kalau salah pilih lokasi bagaimana ? Ya, seperti halnya ketika mandi. Kalau rugi tinggal di analisa, apa nih yang membuat rugi.Kalau salah pilih lokasi, tinggal pindah tempat saja. Kalau masih salah lagi, ya tinggal pindah lagi. Begitu seterusnya. Artinya, berbisnis itu tidak ada yang namanya gagal, tapi yang ada hanyalah berhenti mencoba.

Untuk kawan-kawan yang ingin memcoba untuk berbisnis, saya ingatkan, janganlah selalu menanyakan “Nanti bagaimana ?” Tapi biasakanlah untuk berkata “Bagaimana nanti !”. Lah, memang siapa saya. Pakar bisnis bukan, kenapa harus mendengarkan apa kata saya. Ya, dengarkan saja deh. Ambil saja positifnya. Kalau tidak sesuai, ya disesuaikan saja… hehe

Oh iya… kata-kata “bagaimana nanti” saya pikir cocok juga untuk segala situasi.  Coba saja deh.  Mudah-mudahan  bisa membuat anda orang yang selalu siap ACTION.  Talk Less Do More ( yang artinya, sudah kerjakan saja, jangan kebanyakan mikir.. hehe). Bagaimana menurut Anda ?

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

Please follow and like us:

16 thoughts on “Nanti Bagaimana ? Bagaimana Nanti !”

    1. eh… iya… diralat kang. maksudnya tidak untuk segala situasi. Maksud saya disini, kata-kata “nanti bagaimana ?” itu menciptakan ketakutan-ketakutan yang dibuat sendiri, akhirnya malah tidak jadi action. Padahal belum tentu ketakutan-ketakutan itu bakal terjadi….

      misal, suatu saat didalam sebuah forum,ada orang berkesempatan untuk maju untuk mempresentasikan karyanya, tapi karena kata-kata “nanti bagaimana ?” Nanti kalau ternyata banyak orang tidak mengapresiasi karyanya bagaimana ya ? Ketakutan ini akhirnya, membuat dia mundur. Padahal belum tentu keadaannya seperti itu.

      Intinya kata-kata “bagaimana nanti” hanya sebagai pendobrak untuk melakukan action kang. Tentunya setelah gerbang pertama (norma agama, norma sosial, norma masyarakat) tidak bertentangan…

      bagaimana menurut kang Erdien ??

  1. “Nanti bagaimana” itu menunjukan sifat pesimis. Namun hanya dengan membalik pertanyaan itu menjadi “bagaimana nanti” itu sudah menunjukan sifat optimis. Itulah salah satu kelebihan bahasa Indonesia hanya dengan membalik artinya sudah berbeda. Ya gak mas?

    Salam Mas Octa lama kagak dateng…. 🙂

    1. betul sekali mas Sum….
      iya nih, dah lama ga beredar… sibuk dengan bisnisnya nih kayaknya… 🙂

    1. menurut saya, komentar mas Arief ini menunjukkan bahwa mas Arief menganut faham “bagaimana nanti”… hehe

      setuju sekali mas. memanfaatkan waktu yang ada sebaik2nya….

  2. saya biasa menggunakan rumus ” berpikir selangkah, bertindak selangkah”. Ini menjamin apa yg saya lakukan sudah saya rencanakan, minimal saya niatkan. Cuma selangkah aja mikirnya, harus langsung bertindak. Sebab kalau mikir lagi bakalan enggak jadi atau pusing sendiri.

    1. maksud saya disini adalah munculnya pikiran-pikiran negatif yang akhirnya membuat orang batal action mas…..

  3. Hi Mas Octa,
    sekedar berbagi topik sama yang pernah saya tulis di blog sederhana saya.
    Ketakutan, kekuatiran dan sejenisnya memang penyakit lumrah manusia. Wong namanya saja ‘penyakit’, ya mesti kudu diobatin.
    ketakutan jenis ini equivalen dengan penyakit ‘mengandalkan suatu hari nanti’.
    ….Dalam dunia keuangan, mengandalkan ‘suatu hari nanti’ sangat menyesatkan dan merupakan salah satu inti dari kegagalan financial. Pola pikir ‘suatu hari nanti’ membuat kita berharap, mengangankan dan menunda-nunda dan semua ini adalah upaya lemah untuk menyingkirkan tanggung jawab fiskal diri kita dan menempatkannya pada orang lain atau sesuatu yang lain.

    ? Lunasi hutang SEKARANG!

    ? Menabunglah SEKARANG!u? Rubah prioritas keuanan SEKARANG!

    ? TIDAK berharap pada “kalau ada uang lebih, jaminan sosial, THR, dll… warisan, pensiun,

    dll, dll..

    TIDAK ADA SEORANGPUN YANG AKAN MEMBANGUN KEMERDEKAAN FINANSIAL UNTUK ANDA, Semua terserah Anda!!

    Masa depan bukanlah suatu hari nanti, MASA DEPAN ADALAH SEKARANG!!

    ? Prediksikan hal terburuk dulu. Persiapkan dirimu selalu bila hal tak diinginkan terjadi: ~ kecelakaan, PHK, sakit, kematian…

    “Hari tidak hujan ketika Nabi Nuh membangun bahtera!”

    Siapkan segalanya ketika keadaan baik-baik saja, karena itu tidak selalu begitu. Segalanya bisa berubah dalam setiap detik hidupmu. Dalam hidup ini Cuma ada satu hal yang pasti yaitu bahwa ‘Hidup itu tidak pasti!’

    :ehm:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *