Menua Dengan Sehat

30 tahun sudah laki-laki itu menjalani hidup. Dalam keadaan yang terlihat susah payah dia melangkahkan kakinya. Badannya yang subur membuat dirinya susah untuk melakukan aktifitas, bahkan pergerakan yang sederhana sekalipun.

Hidupnya memang terlihat baik-baik saja. Dia tetap bisa makan enak setiap harinya. Sebungkus nasi padang dengan rendang daging dan sambal merah, berkuah santan kuning kemerah-merahan yang menggugah rasa menjadi menu sebagian besar makan siangnya. Pagi pun tak kalah enaknya. Sebungkus nasi uduk lengkap dengan telor dan gorengan, semangkuk bubur ayam sukabumi, atau mie instan selalu menemani sarapannya. Malam pun demikian. Sepiring nasi goreng, dilengkapi telor dadar dan kerupuk udang menjadi santap malamnya. Di sela-sela jam makan  tidak ketinggalan 2-3 potongan gorengan mengisi rongga perutnya. Pola makan seperti itulah yang sudah menemaninya selama ini.

Diluar kebiasaan makan enaknya, ternyata sering kali dia mengeluh kepada istrinya tentang permasalahan kesehatannya. Kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, asam urat tinggi. Ya, dibayar lunas semuanya belanja makannya selama ini. Dulu waktu usianya masih dibawah 30 tahun , tidak banyak keluhan yang terasa. Setelah kepala 3, barulah terasa berbagai macam keluhan penyakit. Dari mulai gampang lelah, susah tidur, pusing-pusing, migran, sampai keluhan vertigo, pernah dialaminya. Bahkan beberapa kali dibagian sebelah kanan tubuhnya tidak bisa digerakkan karena stroke ringan. Berbagai serangan penyakit  yang menghampirinya ternyata tak membuat laki-laki ini tersadar untuk mengubah pola makannya. Bahkan ketika ada niat dan usaha mengubah pola makannya, hanya dalam beberapa minggu, kebiasaan makannya kembali seperti semula. “Sulit mengubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun, coy”, katanya. Hanya karena tidak bisa menghindari kesenangan sesaat, dia “rela” bersakit-sakitan. Ironisnya dibeberapa kesempatan dia berujar: “Sudahlah.. makan ga usah diatur-atur. Nikmati aja selagi masih muda”.

30 tahun sudah usianya. Sudah setengah dari usia rata-rata manusia. Artinya sudah setengah perjalanan hidup dilewati dengan menikmati hidup dengan makan seenaknya.  Masih ada setengah perjalanan hidup lagi. Sudah dipastikan setengah itu akan dijalaninya dengan “tiada hari tanpa keluhan penyakit”.

Cerita diatas adalah rekaan saya saja. Mungkin juga ini cerminan saya dulu ketika mengalami obesitas. Atau mungkin juga ini cerminan  Anda sekarang.

Memang itulah yang terjadi sejauh pengamatan saya. Ketika orang diajak untuk menjalankan pola makan sehat, mereka langsung ambil sikap defend. Seakan-akan dihadapannya ada orang yang mau merenggut kebahagiaannya. Menurut kebanyakan orang – atas dasar pengamatan pribadi – mengatur pola makan itu menyengsarakan, tidak bisa menikmati hidup katanya.

Mereka baru tersadar ketika penyakit yang datang membuat mereka terbaring di kasur rumah sakit dengan diagnosa stroke berat, serangan jantung, atau gagal ginjal. Baru tersadar ketika ratusan juta keluar untuk perawatan rumah sakit, operasi jantung, atau cuci darah. Ya, harus membuat mereka terkapar tak berdaya secara fisik dan finansial, baru kesadaran itu muncul. Namun semua itu terlambat. Ketika fisik sudah tak kuat, ketika finansial sudah di titik mengkhawatirkan, apa yang bisa diperbuat. Tidak ada yang dapat diperbuat, hanya menyusahkan orang-orang terdekat. Hanya menunggu belas kasihan dan berharap keajaiban datang.

terkapar sakit

Mau memulai hidup sehat sampai kondisi anda seperti itu?

Beruntung Anda membaca tulisan saya ini. Beruntung masih ada orang-orang disekitar Anda yang mengingatkan. Mumpung masih muda, bukannya memilih untuk menjalani hidup seenaknya, lalu menua dengan sengsara. Tapi pilihah menjalani hidup dengan sehat. Terlihat “menyengsarakan” tapi menua dengan sehat. Menua dengan tetap dapat beraktifitas dengan anak cucu, menua dengan tetap dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan, dan menua dengan tetap dapat memberikan manfaat terhadap lingkungan.

Mana yang Anda pilih? Menua dengan sengsara atau menua dengan sehat?

Tentu menua dengan sehat, bukan… Oke. kalau itu pilihan Anda, beranikah meninggalkan “kesenangan dunia” dengan mulai mengatur pola makan Anda? Berani! Oke.. Sebagai langkah awal mulailah dengan mengganti menu sarapan Anda. Pilihlah menu sarapan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dan energi sepanjang hari dengan tetap memperhatikan jumlah karbohidrat dan kalori yang masuk. Hindari sarapan dengan kalori dan karbohidrat tinggi. Itu saja dulu. Setelah Anda dapat membiasakan dengan sarapan sehat, selanjutnya mulailah dengan mengubah pola hidup Anda. Dari mulai pola makan secara keseluruhan , pola olahraga dan pola istirahat. Insya Allah kita semua akan menua dengan sehat.

Sekali lagi kalau boleh kembali saya ingatkan kepada Anda yang sudah kepala 3… Usia Anda sudah setengah dari usia rata-rata manusia. Mau menunggu sampai kapan? Pilihlah menua dengan sehat dari sekarang! Ayo segera bergabung dengan komunitas “Menua Dengan Sehat”.

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

NB: Tulisan ini juga sebagai pengingat diri agar konsisten menjalankan pola hidup sehat. 

9 thoughts on “Menua Dengan Sehat”

    1. alhamdulillah mas…. 🙂
      kalau mau konsultasi tentang pola hidup sehat, hubungi aja saya mas. Insya Allah saya bantu 🙂

Leave a Reply to Puri Areta Cancel reply