Mengingatkan Untuk Diingatkan

Menulis artikel yang tujuannya untuk saling mengingatkan memang agak riskan. Awalnya saya sempat ragu untukย  mem-branding blog pribadi ini dengan tagline “Mencari Kebahagian Dunia Akhirat Melalui Aktifitas Blogging”. Terlalu berat, atau mungkin takut ada yang mencibir sok suci.

Sempat terpikir juga, apakah saya, manusia yang penuh dosa, layak untukย  menopang tagline seberat itu. Tapi, karena teringat salah satu hadist Rasulullah SAW yang cukup populer, yaitu “Sampaikanlah walau hanya satu ayat“, saya memberanikan diri untuk terus maju pantang mundur. Tidak perdulilah apa kata orang nanti.

Saya yakin, komunitas blogger yang selama ini terbentuk selama hampir satu tahun ini saya nge-blog, pastilah blogger-blogger yang berpikiran positif. Jadi, walaupun taglinenya terlalu berat, pe-de aja lah. InsyaAllah banyak yang mendukung. Betul tidak ?

Kewajiban turunan yang mesti ditunaikan dari tagline blog ini adalah membuat artikel “pengingat”. Dan alhamdulillah satu artikel “pengingat” telah sukses diluncurkan. Maksudnya sukses di publish ๐Ÿ™‚ . Artikel perdana ini saya beri judul “Iman Saja Tidak Cukup“. Silahkan dibaca bagi yang belum sempat membacanya. Yang sudah membacanya, boleh kok untuk membacanya sekali lagi. Namanya juga artikel “pengingat” ๐Ÿ˜€

Didalam kehidupan sehari-hari, banyak orang yang ketika diingatkan, dengan seribu bahasa mereka membangun sebuah benteng pertahanan. Pempertahankan diri seakan-akan mereka selalu benar. Semisal, dengan mengeluarkan kata-kata,” Ini urusan gue sama Tuhan, lo ga usah ikut campur deh atau “Kayak lo dah bener aja” dan berbagai kata-kata lainnya, yang membuat posisi “sang pengingat” malah jadi terpojok.

Ini mungkin salah satu alasan, kenapa banyak orang yang lebih bersikap berdiam diri dan tidak mau ikut campur, meskipun ada kemaksiatan hadir di hadapan mereka. Ada ketidaknyamanan ketika dibilang “sok suci”, ada rasa kurang percaya diri dan rasa tidak pantas untuk memposisikan diri sebagai “sang pengingat”.

Ini bukan masalah pantas atau tidak pantas, kawan. Kita sebagai manusia mempunyai kewajiban untuk mengingatkan. Tidak usah dipedulikan seperti apa kondisi kita sekarang. Tidak usah peduli seberapa bejatnya kita, seberapa hinanya kita. Fokuskan tujuan bahwa kita hanyalah sekedar mengingatkan. Mudah-mudahan kebiasan untuk selalu mengingatkan, akan membuat kita menjadi manusia yang lebih mulia. Manusia yang akhirnya mempunyai tekad untuk memperbaiki diri.

Untuk Anda yang diingatkan…

Kenapa harus melihat siapa “sang pengingat” di depan Anda ? Kenapa Anda harus gengsi atau merasa digurui ketika “sang pengingat” itu adalah seorang yang tidak pantas untuk mengingatkan. Kenapa tidak berani mengakui adanya kebenaran dibalik kata-kata “sang pengingat”. Tidak bisakah kita melihat hanya pada esensi sebuah kata-kata bukan pada siapa dibalik kata-kata itu ?ย  Hikmah itu bisa datang dari mana saja, kawan. Tak terkecuali dari orang-orang yang mungkin kita anggap tidak pantas untuk mengingatkan.

Mudah-mudahan kita bisa memposisikan diri sebagai manusia yang lebih bijak yang selalu berpikir positif terhadap segala sesuatu yang hadir di depan mata dan telinga kita. Mudahan-mudahan kita selalu bisa berperan sebagai “sang pengingat” sekaligus berlaku bijak sebagai seseorang yang diingatkan.

Anda berani mengingatkan, berarti harus rela membuka diri untuk selalu diingatkan….

Ayo, kita saling mengingatkan, kawan !

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

14 thoughts on “Mengingatkan Untuk Diingatkan”

    1. yang artinya saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran ๐Ÿ™‚

  1. Betul banget.

    Maaf saya baru ngeblog lagi nih hehe.
    Salam persohiblogan ๐Ÿ™‚

    Oh ya, kirimkan alamat lengkap beserta kode posnya ke alamat email saya dengan subjek: Buku Kecil. Ditunggu ya!

    1. salam juga mas…
      eh… emang saya menang kontesnya ya kang ? coba dicek lagi kang… takutnya salah orang… tapi kalau mau tetap kirim, ya gapapa, pasti saya terima… hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *