Mendidik Dengan Kesabaran

Menurut saya, salah satu elemen penting sifat manusia yang akan membawa kesuksesaan adalah sifat sabar. Apapun peristiwa yang menyenggol wilayah emosi kita, harus kita sikapi dengan kesabaran. Termasuk juga dalam hal mendidik anak.

Mungkin banyak orang tua termasuk saya yang bertanya, bagaimana sih mensikapi anak yang “nakal”, bagaimana sih menyuruh anak agar mau mengerjakan PR sekolahnya, bagaimana sih menyuruh anak agak mau menyikat giginya dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin saja muncul akibat dari kebingungan orang tua bagaimana lagi menyikapi anak-anak yang susah diatur.

Haykal…
Ini adalah  nama panggilan anak pertama saya. Dia ini bisa saya golongkan sebagai anak yang hiperaktif. Tingkah lakunya sering kali menguji kesabaran orang tuanya.

Sebagai gambaran betapa hiperaktifnya Haykal, dia selalu melompat-lompat di tempat tidur. Kadang adiknya dilompatinya.

Dia juga suka iseng terhadap adiknya. Kuping, mulut, puser dan hampir seluruh bagian tubuh adiknya pernah jadi sasaran keisengannya. Entah itu diputer-puter, dicolek-colek dan apa saja sehingga si adik merasa terganggu dan akhirnya menangis.

Selain itu, dari beberapa bulan yang lalu, Haykal jadi suka sekali berbicara. Apa saja dia tanyakan. Kata-kata yang sudah familiar sekali adalah “Apa… ?”. Kata-kata itu sering kali diulang-ulang.  Setiap kali dia bertanya atau berbicara kepada ayah bundanya, kemudian kami jelaskan dan Haykal selalu kembali bertanya “Apa ?”.  Kadang kami “mengakalinya” dengan menjawab sepanjang-panjangnya. Dan terkadang, setelah mendengarkan penjelasan panjang kami, Haykal mengakhirnya dengan kata “Ya… ya”, seakan-akan dia mengerti apa yang kami bicarakan.

Belum lagi kalau harus menyuruh dia makan, mandi, tidur siang atau tidur malam. Bisa dibilang tiada hari tanpa uji nyali…. eh uji kesabaran maksudnya 🙂

Dari segala tingkah laku Haykal yang kami kategorikan sebagai hiperaktif  bahkan “nakal”, langsung atau tidak langsung pastilah menyinggung wilayah emosi kami. Dan terkadang dalam kondisi kelelahan kami sering kali terpancing dan akhirnya memarahi dia.Dan hasilnya malah tidak memuaskan. Kalau tidak bertambah “nakalnya”, ya paling dia menangis dan kami sebagai orang tua tidak mendapatkan informasi apapun kenapa Haykal sengaja melakukan kenakalannya itu.

Sekali waktu kami menyikapinya dengan bersabar. Bukan memarahinya, tapi langsung bertanya dengan lembut kepada Haykal kenapa dia melakukan ini, kenapa dia melakukan itu. Biasanya dia akan menjawab, walaupun kebanyakan jawabannya tidak nyambung. Dan biasanya kalau saya langsung bertanya – tidak memarahinya, dia akan terduduk diam seakan mendengarkan apa yang disedang dikatakan orang tuanya.

Dari kondisi tenang seperti itulah kemudian saya bisa menjejalinya nasehat, dengan memberi tahu kepada Haykal kenapa dia tidak boleh melakukan ini, kenapa tidak boleh melakukan itu. Dan hasil akhir dari sikap bersabar kami adalah sebuah kalimat yang menyejukkan hati yang keluar dari mulut mungil Haykal. Kalimat itu adalah “iya ayah” atau “iya bunda”.

Lega rasanya kalau kami bisa menyikapi kenakalan anak kami dengan kesabaran. Walaupun mungkin keesokkan harinya Haykal mengulanginya lagi dan menguji kesabaran orang tuanya kembali. Memang begitulah anak-anak.

Dari kedua sikap kami diatas, tentunya kawan-kawan setuju terhadap sikap kami yang kedua, bukan ? Apapun tindakan sang anak yang membuat orang tua emosi, tiada sikap yang terbaik selain bersabar.

Dari sumber yang saya dapatkan dari membaca buku-buku tentang mendidik anak, bahwa sikap anak yang kita anggap sebagai kenakalan sebenarnya hanya sebuah manifestasi dari sikap anak dalam mencari perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Ya, tujuan mereka sebenarnya hanya itu, PERHATIAN dan KASIH SAYANG.

Memarahi anak ketika berbuat nakal tujuannya mungkin ingin menunjukkan kepada anak bahwa orang tuanya tidak suka terhadap tindakannya itu dan berharap si anak tidak akan mengulanginya lagi. Tapi kenyataannya kemarahan kita malah makin menunjukkan kepada anak bahwa kita tidak perhatian dan tidak menyayanginya. Akibatnya si anak akan semakin menjadi-jadi kenakalannya. Karena merasa tindakan yang mereka lakukan sebelumnya tidak  cukup mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, akhirnya mereka akan terus mengulangi dan mengulanginya lagi.

Tapi ketika kenakalan anak disikapi dengan kesabaran dengan cara bertanya kenapa mereka melakukan kenakalan tersebut, si anak akan merasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Dalam kondisi seperti itu tentunya akan lebih mudah bagi orang tua untuk memberikan nasehat kepada anak-anaknya.

Kesimpulannya adalah :
Tidak ada anak yang nakal. Mereka hanya bertindak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Kalaupun ada, sesungguhya kenakalan mereka bukan berawal dari dirinya, tapi berawal dari sikap orang tua yang tidak bersabar dalam mendidik anak. Astagfirullah….. jangan sampai karena ketidaksabaran kita, anak kita menjadi anak nakal ketika dewasa nanti.

Nah, itulah pengalaman  dan kesimpulan kami dalam mendidik kedua anak kami yang masih berumur dibawah 3 tahun. Mudah-mudahan bermanfaat. Silahkan dikomentari ya….

Doakan kami untuk selalu bisa bersabar dalam mendidik anak ya….

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

15 thoughts on “Mendidik Dengan Kesabaran”

  1. Mendidik anak memang perlu kesabaran 🙂

    Saya pun merasakan hal seperti itu Mas hehehe….

    Banyak bertanya? Bagus tuh…. biarkan dia berlatih kritis, jangan dipatahkan oleh ketidaksabaran kita 😀

    Semoga sukses dalam mendidika anakmu Mas, jika kita bersabar, insya Allah anak kita pun jadi penyabar

    1. iya… kang, saya menulis ini juga sebagai pengingat kami untuk selalu bersabar. Jadi kalau lagi ga sabar, langsung baca aja artikel ini…. Biar malu sama tulisan sendiri 🙂

  2. hahaha kena nih, kadang saya merasakan juga ketika anak mulai “ngeyel” pasti ada saja perasaan “mbededeg” dalam hati, tapi sepertinya memang butuh kesabaran ekstra apalagi sekarang dah mulai beranjak 3 th ini

  3. wah bisa jadi referensi jika nanti saya punya anak nih… ehm mungkin Mas Octa dulu juga nakal pas kecil jadi nurun nih ma Haykal… sabar Mas, ada yang bilang kalau kecilnya nakal pas besar kebanyakan jadi anak yang baik, tapi kalau kecilnya pendiam nah itu yang bahaya, besar malah nuakal jadinya hehehe :hulahula:

    1. sepertinya semua anak kecil nakal deh…. coba tanya ibu mas akbar, pasti dulu mas akbar juga nakal…. hehe

  4. Saya belum punya anak tapi sedikit banyak tahu tentang cara mendidik anak yang baik.

    Memang “kesabaran” adalah tuntutan ketika mendidik, kalau g sabar g akan jadi anak. Sabar memang harus tetap ada dalam diri orang tua kapan pun.

    Anak kecil nakal itu biasa justru kalau anak kecil yang nurut2 aja itu yang harus diteliti, ada apa gerangan.. he..he..

  5. Semoga saya juga bisa menjadi orang tua yang baik yang bisa sabar dan mendidik anak saya dengan baik, sehingga harapan kami sebagai orang tua bisa tercapai

    1. setuju mas….
      semestinya anak memang harus lebih baik dari orang tuanya.
      ibaratnya…. guru kencing berdiri, murid kencing berlari… 🙂

Leave a Reply to eser Cancel reply