Mau Mengubah Dunia, Ubahlah Diri Sendiri Dulu

Beberapa pedagang asongan sedang asik melepas lelah di halte bis yang terlihat kumal sambil berbincang-bincang. Sebut saja Mike, berkali-kali dia tampak geram ketika bercerita tentang anggota dewan yang melakukan tindak pidana korupsi. “Uh, enak aja tuh si Bapak ngambil uang rakyat, ga mikirin kita-kita yang hidup susah,” Mike menggerutu. ” Gimana mau maju nih Indonesia,” Mike menutup umpatannya. Di lain waktu, hampir saja  Mike menubruk seorang gadis yang sedang melintasi zebra cross. Jelas ini adalah kesalahan Mike karena dengan sengaja menerobos lampu merah.

Di lain tempat ada seorang ibu, Yuni panggilannya, menggerutu karena harga bahan kebutuhan pokok meningkat. Dengan kesalnya dia mengumpat, “Dasar pemerintah, ga becus ngurus negara”. Di situasi yang berbeda, Yuni dan teman-temannya jalan-jalan di mall. Disebuah kios tas, Yuni berhenti untuk sekedar melihat-lihat. Ada satu tas yang menarik di hatinya. Akhirnya tanpa berpikir panjang, dia beli tas itu.

Apa yang bisa dilihat dari cerita Mike dan Yuni diatas ?

Saya coba bahas tentang Mike. Mike adalah seorang pedagang asongan. Dia sangat kecewa dengan anggota dewan, bukannya mengurusi rakyat, malah sibuk mengurusi dirinya sendiri dengan melakukan korupsi. Satu sisi, ini adalah perasaan yang lumrah dialami 0leh rakyat kecil yang merasa terdzolimi. Tapi, coba kita perhatikan lebih jauh. Apa bedanya anggota dewan dengan Mike. Menurut saya tidak ada bedanya. Si anggota dewan mengambil hak orang lain dengan menggelapkan uang rakyat, sementara Mike mengambil hak penjalan kaki dengan menerobos lampu merah. Sama-sama mengambila hak orang lain.

Bagaimana dengan Yuni? Yuni mengeluh karena harga kebutuhan pokok terus meningkat. Dia menganggap bahwa pemerintah tidak piawai mengurus negara, sehingga rakyat kecil yang kena getahnya. Sekali lagi, ini adalah opini yang wajar keluar dari seorang ibu rumah tangga seperti Yuni. Lagi-lagi saya mengajak Anda untuk melihat lebih jauh. Apa bedanya pemerintah dengan Yuni. Menurut kaca mata saya, tidak ada bedanya. Menurut Yuni, pemerintah tidak bisa mengatur keuangan negara sehingga terjadi kenaikan harga sembako, sementara menurut saya, Yuni tidak bisa mengatur keuangan keluarga dengan membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak perlu.

Apa inti dari cerita ini?

Memang paling mudah untuk menyalahkan orang lain. Sudah menjadi sifat dasar manusia ingin selalu merasa benar. Kadang kita dengan mudahnya melihat kekurangan orang lain, tapi tanpa sadar sebenarnya kita pun demikian. Bahkan lebih buruk.

Dalam  satu kesempatan, seorang ustadz dalam ceramahnya mengatakan bahwa apa yang ada di dalam itu lebih penting dari pada apa yang ada di luar. Maknanya adalah merubah sifat atau kebiasan orang lain itu sulit, apalagi merubah sebuah instansi atau negara. Merubah apa yang ada diluar diri kita itu sulit. Dari pada memikirkan bagaimana mengubah dunia, akan lebih mudah mengubah apa yang ada di dalam diri.

Mengubah dunia dengan mengubah diri sendiri dulu

Langkah awal untuk mengubah dunia adalah dengan mengubah diri kita terlebih dahulu. Isi hari-hari dengan usaha untuk menjadi lebih baik. Mudah-mudahan perubahan itu  akan dilihat oleh orang dan membuat orang lain tergerak untuk berubah jadi lebih baik. Jadikan kebaikan menjagi mata rantai yang tak terputus. Apabila ini terus dilakukan, bukan tidak mungkin kita akan bisa mengubah keluarga, negara, bahkan dunia menjadi lebih baik. Akan sulit rasanya mengubah dunia, sementara sulit bagi kita untuk mengubah diri kita sendiri. Wallahu alam bishshawab…

Yuk berubah dan bantu untuk saling mengingatkan…..

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

 NB: Apabila ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan saja. So….. jangan tersinggung ya 🙂

 Sumber gambar : http://dreamindonesia.wordpress.com/2012/06/09/inilah-cara-untuk-mengubah-dunia/

Leave a Reply