Jangan Dengar Kata Hati Mu

Sebuah nasehat yang sering kita dengar, ketika kita akan memilih atau melangkah : Dengarkanlah kata hati mu. Tentunya Anda pun sering mendengar nasehat seperti ini, bukan  ?

Menurut saya ada yang kurang dari nasehat diatas. Bahkan, apabila kita serta merta begitu saja benar-benar mendengarkan apa kata hati kita, yang terjadi malahan sebuah mala petaka.

Loh kok, bisa begitu ? Aliran sesat apalagi ini ? Insya Allah ini tidak sesat kawan. Justru mau meluruskan, apa yang selama ini, menurut saya, ada yang kurang pas.

Begini…
Hidup seseorang, siapapun dia, tidak akan lepas dari keharusan untuk memilih dan melangkah. Kadang, keharusan itu bisa saja menjadi sulit karena harus banyak mempertimbangkan segala sesuatunya. Jalan satu-satunya dan merupakan jurus pamungkas untuk mengatasi masalah ini adalah : Dengarkanlah kata hati mu. Benar tidak ?

Sekarang yang jadi permasalahan adalah, apakah pantas hati kita menjadi persinggahan terakhir terhadap pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya berpengaruh terhadap masa depan kita. Apakah pantas hati yang terkontaminasi oleh lingkungan yang tidak sehat, menjadi andalan bagi kita untuk menjawab segala permasalahan hidup kita. Hati yang tidak pernah atau jarang diisi oleh hal-hal yang bisa melembutkan hati. Hati yang tidak pernah atau jarang diisi oleh kalimat-kalimat Allah. Hati yang jarang diisi oleh petuah-petuah dari orang-orang sholeh. Apakah pantas kita bertanya kepada hati yang seperti itu ?

Nasehat  bahwa kita harus mendengarkan kata hati akan lebih pas dan powerful adalah apabila hati kita selalu diisi oleh hal-hal yang positif. Hati yang selalu diisi oleh kalimat-kalimat Allah, hati yang selalu diberikan nasehat-nasehat penebal iman dari orang-orang sholeh dan hati yang selalu terjaga dari hal-hal negatif disekeliling kita. Yang jadi pertanyaan, mungkinkah kita memiliki hati yang seperti itu ? Jawabannya adalah MUNGKIN saja. Tapi, tidaklah mudah.

Jadi menurut saya, ada beberapa solusi agar setiap keputusan kita dalam memilih dan melangkah bisa mendapatkan hasil yang optimal, antara lain :

1. Dengarkan kata hati mu, hanya jika kita yakin bahwa hati kita BERSIH. Keyakinan itu harus diperkuat dengan langkah nyata untuk selalu membuat hati kita tetap bersih. Misalnya dengan banyak-banyak berzikir, sering-sering menghadiri majlis-majlis ilmu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, bergaul dengan orang-orang sholeh dan masih banyak yang lainnya.

2. Bertanyalah pada orang-orang sholeh di sekeliling kita. Kebersihan hati susah diukur, langkah yang paling aman, menurut saya, janganlah serta merta menanyakan kepada hati, tapi tanyakan saja kepada orang-orang sholeh disekitar kita. InsyaAllah jawaban dari orang sholeh akan lebih baik dari jawaban dari hati kita yang masih terisi oleh hal-hal yang tidak baik.

Nah, jelas ya. Jangan dengarkan kata hati mu, sebelum kita yakin bahwa hati kita bersih. Tanyakan saja kepada orang-orang sholeh. Paling tidak jawaban yang bersumber dari luar diri lebih objektif.

Bagi Anda tidak setuju, jangan sungkan untuk sharing di kolom komentar ya…

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

NB : Artikel ini dibuat sebagai pengingat diri saya pribadi untuk selalu membersihkan hati dan terinspirasi dari obrolan di warung tenda dipinggir jalan dengan teman kantor 🙂

 

 

 

14 thoughts on “Jangan Dengar Kata Hati Mu”

  1. Suara hati itu adalah jeritan jiwa yang memberontak atas apa yang tidak adil dalam dirinya. Kata hati itu melambangkan atas apa yang diteriakkan oleh suara hati. i agree with what u said n wrote bro……..

      1. hati ini berkarat sebagai mana besi berkarat jika terkena air, maka pembersihnya adalah Zikir .
        memang hati itu jernih dan bersih, tetapi hatinya siapa dulu? hanya hati2 yg dijaga oleh Allah lah yg tidak diragukan kebenarannya, ciri2 hati yg dijaga oleh Allah itu sudah jelas ada kreterianya di dl Al-Quran.
        jika kita buat satu dosa maka akan timbul satu titik hitam di hati kita dan jika kita buat terusmenerus dosa maka hati akan menjadi hitam, maka akan semakin engan tuk berbuat kearah kebaikan. kita ambil contoh: mungkin kita pernah mendengar atau bertemu dg Orang yang suka minum Alkohol, ketika dia ditawari utk makan daging babi dia akan menolak dan akan berkata daging babi itu haram, atau jika ditawari utk berbuat dosa lainnya dia menolak dg berkata itu haram, padahal tanpa dia sadari bahwa meminum Alkohol itu sudah termasuk dosa. itu mungkin sebagaian kecil contoh sederhana. meang sebaiknya utk menyelesaikan suatu masaah kita harus bertanya sama ulama, tidak engandalakan isi hati, karna kalo isi hati tidak bisa diterka kebenarannya. dan bisa2 ujung2nya mengaku nabi lagi he..he.. :mrgreen:

    1. Lanjut baca yg nomor dua… Ketemu deh jawabannya. Kebersihan hati susah diukur, solusinya bertanya saja dengan orang2 sholeh

  2. salam kenal bro. . .
    saya setuju seh ,kadangkala emang kita tidak boleh sepenuhnya dengar hati kita,dalam arti, bneran lagi “suci”gak hati kita???

  3. Terima kasih atas jawabannya karena, apakah saya harus mendengarkan kata hati saya sebap hatiku ingin sesuatu yang harus saya turuti.

Leave a Reply to Octa Dwinanda Cancel reply