Hidup Bahagia Dalam Segala Kondisi

Ini sudah malam ke-empat, “terpaksa” saya harus tidur sendiri disebuah kamar dengan ukuran 3 kali 3 meter. Hanya ditemani 1 buah kasur spring bed, 1 buah lemari pakaian setinggi 1,5 meter dan beberapa perabotan lainnya yang masih terlihat berantakan terpajang diatas lemari dan dibawah lantai. Maklum anak kost baru 🙂

Ya, dimulai sejak berakhirnya libur Idul Fitri 1432 H, saya terpaksa harus balik ke pontianak sendiri, meninggalkan istri dan 2 anak saya dibekasi.

Pertimbangan saya waktu itu untuk tidak membawa keluarga saya kembali ke Pontianak karena kebetulan masa kontrak rumah di Pontianak habis pada tanggal 30 Agustus 2011 yang lalu dan kebetulan juga saya sudah bekerja diPontianak lebih dari 4 tahun, dan kabarnya setelah lebaran ini akan ada “pergerakan”, harapannya saya termasuk kedalam jajaran orang-orang yang ikut “pergerakan”. Karena itulah saya berani berspekulasi untuk tidak membawa keluarga saya balik ke Pontianak.

Tapi karena spekulasi saya itulah, akhirnya saya harus menerima konsekuensinya untuk tinggal sendiri disebuah kostan dengan biaya 400 ribu sebulan.

Hmmmm, pikiran saya menerawang jauh ke belakang, teringat ketika saya masih kuliah dulu. Dulu pun begitu, saya harus meninggalkan keluarga untuk nge-kost di depok dekat kampusku. Bedanya adalah dulu belum menikah, sekarang sudah menikah dan sudah punya buntut pula. Perbedaan lainnya adalah, kalau dulu kamar kost-nya ada kamar mandi didalam, kalau sekarang saya harus berbagi kamar mandi dengan penghuni kost lainnya… hehe.

Sebenarnya, setelah menikah, sudah beberapa kali saya harus tinggal sendiri dalam waktu yang cukup lama. Hanya saja, sekarang sepertinya sedikit lebih berat karena dihantui perasaan galau, kalau-kalau saya tidak masuk dalam bursa transfer musim ini, sementara ini barang-barang perabotan sudah terjual semua. Artinya kalau seadainya harapan saya untuk pindah mutasi ke daerah lain tidak terkabulkan, ini berarti saya harus tinggal sendiri lebih lama lagi. Mengingat kalau seandainya harus ngeboyong keluarga kembali ke Pontianak, saya harus mencari kontrakan lagi dan memberi perabotan rumah tangga lagi. Hadeeeuuuhhhh, kebayang deh betapa repotnya dan betapa banyaknya biaya yang akan dikeluarkan lagi.

Ups, sebenarnya saya anti membicarakan ini, karena biasanya kalau ngebayangin bakal tidak pindah, jadi tambah galau nih. Eits… tapi tenang, saya punya penangkalnya, yaitu berserah diri kepada Allah SWT. Yakin aja, apapun nanti yang terjadi semua itu adalah ketetapan Allah. Kalau sudah merupakan ketetapan Allah, pastilah baik untuk diriku.

Hikmah sementara yang bisa saya ambil adalah paling tidak saya bisa lebih mengoptimalkan bisnis online saya, karena ketika dirumah dan ada istri dan anak, saya hampir tidak ada waktu untuk urusan bisnis online. Kalaupun bisa mencuri-curi waktu, pastilah disambut dengan cemberut di wajah istri. Cemberut menandakan cemburu dengan Laptop HP Compac Presario V3700 yang sudah hampir 4 tahun menemani saya, hampir sama dengan usia pernikahan kami… hehe

Selain itu, karena memang tinggal sendiri, saya jadi bisa ngasih kursus private lagi tentang cara mudah membuat website dengan wordpress sepulang kantor atau di hari-hari libur kantor.

Oh iya, satu lagi hikmahnya. Saya jadi lebih kusyuk lagi dalam beribadah. Termasuk ibadah puasa syawal. Kalau ada istri kan agak susah tuh kalau mau puasa. Agak susah nahan-nahan gittuuu…. hehe.

Sementara itulah hikmah yang sudah terlihat sekarang. Tapi apapun itu, kebahagian yang saya dapatkan ketika jauh dari keluarga, tentunya tidak sebanding dengan kebahagian yang saya dapatkan ketika berkumpul dengan keluarga. Walaupun saya harus terganggu tidurnya, walaupun harus ekstra energi untuk bermain dengan anak selepas pulang kantor.

Benarlah apa yang dikatakan orang-orang tua. Berkeluarga itu menentramkan hati. Itulah kenapa, saya berusaha sedapat mungkin agar selalu bisa hidup satu atap dengan istri dan anak-anak.

Yah, tapi begini lah hidup. Sesuatu terjadi tidak bisa sepenuhnya sesuai dengan apa yang kita kehendaki. Yang terbaik adalah menyakini apapun yang kita alami adalah kehendak Allah SWT dan itu sudah pasti yang terbaik bagi kita. Selalu berpikir positif, selalu meyakini pasti ada hikmah dibalik ini semua dan jangan lupa terus berdoa dan berharap. Lakukan itu, niscaya kebahagian selalu hadir disetiap kejadian, entah itu ketika menurut kita terlihat menyenangkan atau ketika menurut kita terlihat menyedihkan.

Ingat kawan, kebahagian bukan berasal dari kondisi diluar, tapi kondisi di dalam, hati dan pikiran maksudnya 🙂

Happy Living for All Conditions 🙂

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

9 thoughts on “Hidup Bahagia Dalam Segala Kondisi”

    1. iya mas, hidup jauh dari keluarga memang sesuatu banget… hehe
      eh, mashengky.com masih idup toh….. 😀

  1. salam bahagia om..mampir lagi ne,, 🙂

    ketika semua dijalani dengan ikhlas Insya Allah akn selalu bahagia om.. tetep semangad om walo sendiri.. 🙂

  2. tadinya kupikir apa susahnya ngeboyong keluarga, ternyata banyak yang harus dipikirin juga ya.. hmmm…

    semangat mas, happiness is a state of mind :mrgreen:

Leave a Reply to Octa Dwinanda Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *