Antara Cobaan, Ujian, dan Hukuman

musibah tsunami acehBarang siapa yang mendapatkan hidayah dari Allah SWT, maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah SWT, maka tidak akan ada yang dapat memberikannya hidayah. Itulah sepenggal kalimat mengawali khutbah jum’at di masjid Al amanah komplek Kementerian Keuangan pada tanggal 1 Maret 2013.

Dalam khotbah, Ustadz berpakaian jubah putih itu menjelaskan tentang musibah dari sudut pandang islam. Kita ketahui bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami musibah dan tak satu orang pun yang luput darinya. Bagi orang yang mengerti, musibah mempunyai peranan penting terhadap kehidupannya. Oleh karenanya perlu adanya manajemen musibah. Tak pandai kita mengaturnya, musibah hanya sekedar musibah, tak ada nilainya, bahkan menjadi bencana bagi orang yang mengalaminya.

Dalam al-qur’an penceramah mengatakan bahwa Allah menyebutkan musibah dengan berbagai cara, antara lain cobaan, ujian, dan hukuman. Saya akan mencobanya  menuliskannya kembali di dalam tulisan ini.

Musibah Sebagai Suatu Cobaan

Banyak manusia yang menganggap dirinya tuhan. Tidak heran kenapa Allah menurunkan cobaan untuk menunjukkan ke-maha-anNYA seraya mengisyaratkan  bahwa manusia harus kembali menjadi manusia, tidak satu pun yang bisa menandingiNYA.

Fenomena manusia yang menganggap dirinya tuhan sudah ada sejak dulu. Kita mengenal Firaun dan raja Namrud. Mereka menjadi contoh nyata yang melahirkan manusia-manusia jaman sekarang yang menggap dirinya tuhan atau berlaku seakan-akan mereka tuhan.

Saat ini banyak orang yang menghakimi bahwa kelompok ini kafir, orang ini ahli surga, orang ini ahli neraka. Seakan-akan merekalah yang menentukan itu. Sungguh sebenarnya hanya Allah yang tahu, akan berada dimana kita di akhirat kelak. Tugas manusia adalah ibadah dan mengajak orang lain untuk berbuat baik. That’s it.

Musibah Sebagai Suatu Ujian

Seperti halnya murid Sekolah Dasar yang  harus melalui ujian kelulusan untuk bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dari SMP ke Sekolah Menengah Atas (SMA), sampai ketingkat Perguruan Tinggi. Sama halnya dengan kehidupan. Ujian akan selalu menjadi bagian dari hidup kita. Hanya saja kita tidak pernah tahu kapan dan seperti apa ujian itu.

Esensi ujian akan selalu dikaitkan dengan orang-orang yang beriman. Tujuannya adalah untuk meningkatkan maqom (level keimanan). Dijelaskan oleh ustadz, maqom itu dimulai dari muslim, kemudian mukmin, lalu muhsin, mukhlis, dan akhirnya mencapai tingkat muttaqin. Dimanakah kita?

Musibah Sebagai Suatu Hukuman

Allah menurunkan hukuman sudah pasti karena dosa yang telah diperbuat oleh manusia . Harus menjadi concern kita bahwa dosa itu mengundang musibah, dalam hal ini tentunya musibah berupa hukuman atau azab. Ingin menghindari azab, tentunya harus menghindari dosa.

Apapun bentuk musibah yang menimpa kita, entah itu berupa cobaan, ujian atau hukuman, harus kita sikapi dengan baik. Karena segala ketetapan Allah, pastilah ada hikmah dibaliknya. Jika itu jadi pegangan kita, seharusnya kita akan menjadi pribadi yang lebih baik…. InsyaAllah.

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

Leave a Reply