Amar Ma’ruf Nyambi Munkar

Amar_Makruf_Nahi_MunkarRangkaian kata dari judul diatas saya baca di sebuah buku (lupa judulnya) ketika berkunjung ke Toko Buku Wali Songo, Kwitang, Jakarta Pusat. Kata-kata tersebut membuat saya tersadar untuk kembali mengaca pada diri. Banyak sudah tulisan yang saya buat. Isinya adalah kritakan, nasehat, motivasi, seakan-akan diri ini bak seorang ustadz yang pantas untuk didengar. Padahal, beribu-ribu dosa yang tak terungkap disadari atau tidak, dosa besar atau kecil jadi bagian tak terelakkan. Kalau bukan karena Allah SWT yang menutup aib hambanya, sungguh diri ini hanyalah seonggok daging yang hina dan tidak pantas untuk didengar.

Begitu juga mungkin yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Banyak dari kita yang melakukan kebaikan, tapi keburukan pun tetap di lakukan. Banyak orang yang sholat, tapi tetap saja suka ghibah bahkan fitnah. Banyak orang yang bersedekah, tapi durhaka terhadap orang tua. Banyak orang yang sering memberi nasehat orang lain, tapi lupa menasehati diri. Tersenyum, tapi dengki di hati. Tertawa, tapi menyakiti. Begitulah manusia, tidak orang biasa, pejabat, bahkan ustadz sekalipun. Slogan Amar ma’ruf nahi munkar dikhianati. Diganti menjadi Amar ma’ruf nyambi munkar.

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

Image: http://fajarhidayahislam.blogspot.com/2011/01/urgensi-amar-maruf-nahi-munkar.html

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply