21 Juli Empat Tahun yang Lalu

Ada apa 21 Juli empat tahun yang lalu ? Tepatnya 21 juli 2007, sekitar jam 9 pagi, saya melakukan ijab kabul dihadapan penghulu, orang tua dan para undangan.

Ya, hari ini tepat 4 tahun usia pernikahan kami. 4 Tahun  saya menjalani hidup satu atap, walaupun masih atap rumah kontrakan dan rumah mertua, dengan seorang wanita yang telah berjodoh dengan saya. Setelah 2 tahun pencarian, setelah 2 tahun memantaskan diri untuk untuk bisa diberi tanggung jawab memimpin sebuah mahligai pernikahan oleh Sang Pemberi Cinta, Allah SWT. Sekedar pemberitahuan, saya rencana nikah sejak umur 26 tahun, tapi baru dipertemukan dengan jodoh saya umur 28)

4 Tahun mungkin masih terlalu muda untuk umur sebuah pernikahan, tapi 4 tahun merupakan waktu yang cukup lama untuk mengenal lebih jauh tentang pasangan hidup saya. Berhubung saya menganut faham “jomblo forever until merit“, jadi masa pacaran, masa perkenalan lebih jauh kami lakukan setelah menikah.

Selama 4 tahun usia pernikahan kami, pastilah banyak lika-likunya. Masing-masing dari kami makin tahu tabiat kami masing-masing, makin tahu apa yang menjadi kelebihan dan apa yang menjadi kekurangan masing-masing dari kami. Kami akui selama ini tidaklah jarang terjadi pertikaian. Kadang amarah pun sering terlepas sedikit tak terkendali. Kadang tangis pun  mewarnai perjalanan ini. Tapi tak jarang juga dihiasi kegembiraan, keriangan, rasa syukur.

Tapi apapun yang terjadi, Allah telah mempersatukan kami. Kami telah diikat dengan sebuah perjanjian yang sakral. Seperti apapun saya sebagai suami dan seperti apapun istriku, kami haruslah bisa menerimanya. Harus bisa untuk biasa berkaca. Seandainya ada kekurangan dari istri yang tidak saya sukai, sesungguhnya itu adalah cerminan dari diri saya. Karena sesungguhnya Allah telah menjodohkan kita dengan yang sekufu. Untuk itu, sebelum berusaha untuk merubah istri, merubah diri terlebih dulu adalah cara yang lebih baik. Walaupun dalam perjalanannya, kadang saya pribadi terlalu memaksa istri untuk segera merubah sikapnya, akhirnya pertikaian tidak terelakkan.  Mudah-mudahan saya bisa terus berpegang pada ini.

Selama 4 tahun ini, ada beberapa prestasi yang cukup membanggakan yang sudah kami raih. Prestasi pertama adalah kami mendapatkan satu orang putra dan prestasi yang kedua adalah mendapatkan satu orang putra lagi… hehe. Jadi, totalnya kami telah “berhasil” memproduksi 2 anak manusia, tentunya dengan izin Allah  🙂 . Dua orang putra ini kami harapkan bisa menghiasi bumi ini dengan kalimat “La ilaa ha illallah“. Tidak hanya bisa membanggakan bagi kami sebagai orang tua, tapi juga membanggakan bagi umat…

Perjalanan masih panjang, masih ada tahun ke-5, tahun ke-6 dan tahun-tahun berikutnya. Mudah-mudahan pernikahan ini bisa menjadi tempat pembelajaran bagi kami untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi umat yang bisa membanggakan kelak…. Amin. Doakan kami, kawan…

“Ya Allah , jadikanlah istri  dan anak-anakku menjadi cahaya mata bagiku, dan jadikan aku pemimpim bagi orang-orang yang bertakwa”.

Salam Bahagia,
Octa Dwinanda

4 thoughts on “21 Juli Empat Tahun yang Lalu”

Leave a Reply